Kakaren

Coba lihat sejenak lemari tempat penyimpanan kue-kue di rumah Anda. Masih banyakkah penganan atau kue-kue sisa lebaran kemarin? Masih menumpukkah nastar, kue salju, cheese stick dan kue lainnya di dalam toplesnya? Syukur-syukur sih sudah tinggal sedikit, atau malah habis laris manis saat hari fitri beberapa waktu lalu.

“Kue-kue kampung saat lebaran lalu (indra kh)”

Mengapa saya ingin bercerita tentang “kakaren” (sisa-sisa kue atau sisa-sisa penganan khas lebaran)? Begini, berdasarkan pengalaman saya dari setiap lebaran selama ini dan juga kunjungan ke beberapa rumah, saya kerap menjumpai penganan yang dibuat atau dibeli untuk hari raya Idul Fitri masih banyak tersisa, bahkan nyaris seperti tidak pernah tersentuh. Padahal lebaran sudah berlalu cukup lama. Kondisi semacam itu belum diketahui penyebabnya secara pasti. Namun dugaan saya, ada beberapa alasan.

Penyebab pertama, kemungkinan karena orang sudah bosan dengan jenis kue-kue yang itu-itu lagi. Setiap lebaran seperti tidak ada variasi. Sejumlah kue seakan menjadi menu wajib yang tidak boleh hilang untuk disajikan. Berkunjung ke rumah teman, kerabat atau saudara pun sepertinya tidak ada bedanya, jenisnya nyaris sama.

Penyebab kedua kemungkinan karena pembelian atau pembuatan yang kurang terkendali. Saat menjelang lebaran kita mudah tergiur untuk membeli beraneka macam kue, dengan dalih untuk tamu. Itu memang bagus, namun kadang kita lupa memperhitungkan, seberapa banyakkah tamu yang akan datang ke rumah kita.? Jangan-jangan jumlah tamu yang berkunjung sedikit sekali, karena kita keburu mudik ke kampung halaman.

Tumpukan kakaren ini akan semakin menambah masalah jika penganan yang disiapkan untuk lebaran adalah jenis kue-kue yang tidak tahan lama. Disimpan semakin lama malah menjadi jamuran, akhirnya terpaksa dibuang karena tidak ada yang mau mengkonsumsi. Kalau sudah begitu mubadzir jadinya.

Lalu bagaimana menyiasatinya. Saya sendiri belum menemukan jurus jitu. Mungkin Anda lebih tahu. Pada lebaran kali ini keluarga kami mencoba untuk tidak membeli atau membuat kue-kue yang umum disajikan di setiap rumah, semacam kue-kue kering. Kecuali ada yang memberi sebagai hadiah, itu hal lain tentunya.

“Kue-kue tradisional sebagai alternatif penganan khas lebaran (indrakh)”

Lebaran kemarin kami mencoba menyiapkan aneka kue-kue tradisional atau kue-kue kampung bagi tamu. Jenis penganan yang disiapkan antara lain: kolontong Cicalengka dan kolontong Garut, opak Bojong Kunci dari Banjaran, ranginang Ciparay, tape hijau dari Tanjung Sari, opak Conggeang dari Sumedang, kerupuk kulit (dorokdok) dari Garut, kue tengteng, keripik pisang dari Lampung, rangining Garut, dsb. Tidak ketinggalan jus stroberi dan yoghurt dari Lembang.

Meskipun agak susah mencarinya, karena harus datang atau memesan secara khusus, namun kue-kue tersebut laris manis. Mungkin karena jarang dijumpai. Bahkan yang lucu, ada tamu yang minta dibungkuskan beberapa jenis penganan (contohnya tape hijau).

Kini, kue-kue itu sebagian besar tinggal toplesnya saja. Isinya kosong. Kalau pun ada penganan yang masih tersisa hanya sedikit sekali, itu pun tinggal potongan-potongan kecil dan bubuknya saja.

Gimana, Anda masih punya banyak kakaren di rumah? Atau justru sudah habis juga ?

14 Komentar

Filed under food and drink, kuliner, lebaran, makanan

14 responses to “Kakaren

  1. Pertamax!
    Enya bener. Kuduna tong nu umum sajian lebaran teh.
    Di teun urang mah, sarua geus bareak. Tradisional oge, ti Serang hungkul.:mrgreen:

    @ Rully: weeeh kuduna sayah menta kakaren Serang geh

  2. Nie

    euleuh… aya keneh kakaren lebaran kang? meni awet hehehe…

    cing atuh kintun2 susuganan seueur keneh mah
    kang pami ningal alamat imelna ulah wartos2 ieu saha nya, jep weh:mrgreen:

    @ Nie: ayeuna mah tos seep😀 Teteh kamana wungkul, blog-na ku abdi sesah diakses gening. Mudah-mudahan sehat always

  3. Salahsatu faktor yang menyebabkan Pembuatan kue terkendali adalah Dijadikannya sarana pembelajaran pembuatan kue bagi kebanyakan ibu2. Sehingga tak jarang saya menjumpai kue lebaran yang kurang atau terlalu manis, atau rasa kuenya terasa lain dari kue yang biasa dimakan.

    Waktos mudik ti Pangandaran mah seueur nyandak kakaren teh mung eta tea da di dieu mah seueur para ‘Kurawa’ janten weh hanya membutuhkan waktos 1X8 jam Kakaren tos seep.

    @ Taryan: percanten lah ari ka kurawa anu ngageugeuh Gegerkalong mah, hehe

  4. Habis mas dalam sekejap, maklum di keluarga kebanyakan hobi makan, nguyah terus …🙂

    @ Rayyan: Nah kalau itu baru bagus😀

  5. za

    Lhoh, diekspor ke anak kos dong Mang Indra? Secara semua oleh-oleh tentu sudah aku kasih ke orang lain, dan malas untuk membelikan diri sendiri🙂

    @ za: wah beda memang anak kos selalu mantap menatap peluang:mrgreen:

  6. Masih ada sedikit lagi, justru disayang-sayang jangan sampe cepet abis…🙂🙂

    @ IndraPr: pasti kakaren-nya uenak-uenak, ya pak🙂

  7. hmmm,…
    masalah yang sama dan saya temui di rumah lebaran ini
    sebuah idea yang bagus, mungkin akan saya aplikasikan tahun depan
    tulisan menggagas yang sangat menggugah dan inspiratif

  8. iya niih, masih bersisa..terutama kue keringnya..nastar, kue coklatnya, kastengels…sbnrnya saya lebih suka dgn tradisinya Kang, bulan puasa membuat kue kering bersama ibu, nenek, dan adik2…moment2 kebersamaan yang bikin saya selalu rindu dgn suasana mendekati lebaran..klo mmg blm habis..disimpan saja utk tamu2 sesudah lebaran..awet siih..:D

    @ gies: bagi kastengels-nya teh😀

  9. aya keneh seueur.. mangga kabumi

    @ Roffi: muhun sok atuh candak mun kopdar janten😀

  10. Sip makanan kampung juga okay2 tuh….. banyak yg dari daerah2 lain juga punya keunikan tersendiri asal jangan terlalu asin atau terlalu manis saja ya.😀

    @ Yari NK: jangan terlalu asin dan jangan terlalu manis, yang sedang2 saja ya pak😀

  11. andri

    wah bagi2 dongk ya

  12. yeni

    aduh bumina di mana? i wanna stop by too

  13. Aduh…. mani asa ngelay… (+L+) liat na ge….
    tapi buat kakaren nu enak luar biasa mah tidak lain adalah yg termasuk famili Raginang seperti spesies raginang amis, raginang tarasi, comet oge, sareng lagear. siipp lah…
    hade pisan!

  14. Ping-balik: Pasar Kosambi Surga Penganan Bandung « Indra KH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s